30 April 2013

Kenapa Hidup Ini semua terlihat jahat?

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berlapang dada. Jika kita harus marahpun tidak boleh mendendam. Inilah obat kesejukan hati, penghantar keindahan hidup dalam kebersamaan. Hati yang pendendam akan selalu tersiksa. Selama ia masih hidup bersama dengan sesamanya maka ia akan selalu menemukan kesalahan. Karena manusia adalah makhluk yang bisa bersalah.

Sahabatku, diceritakan ada seseorang yang mengeluhkan  rasa sakit di  setiap bagian tubuhnya apabila disentuh oleh jari telunjuknya. Dan Ia pun berusaha untuk  mengobati rasa sakitnya . Namun  sakit itupun tidak kunjung sembuh . Sekujur tubuhnya masih saja terasa sakit jika disentuh  oleh jari telunjuknya.

Sungguh orang tersebut tidaklah akan pernah menemukan obat jika ternyata yang di periksakan ke dokter adalah hanya bagian tubuh yang disentuh oleh jari telunjuknya saja. Sementara ia melupakan jari telunjuknya, yang justru merupakan sumber dari sakit itu sendiri.

Perumpamaan diatas adalah sebuah gambaran tentang sikap hati yang penuh dendam dan kedengkian. Ia akan sulit hidup didalam sebuah kebersamaan. Dalam pandangannya semua orang seolah-olah memusuhinya dan tidak ada yang benar. Padahal yang menjadikan orang lain menjadi tidak baik dalam pandangannya adalah karena hatinya sendiri yang telah kotor.

Hati yang akan mudah tersinggung dan mendendam. Jika ada yang berbuat salah kepadanya akan selalu di ingat dan di simpan di dalam hatinya. Bahkan untuk seseorang yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan kepadanya, maka sudah harga mati baginya untuk dicap sebagai  penjahat .

Ia adalah jari yang sakit, disaat bersentuhan dengan anggota yang sehat akan merasa sakit .Dan tidak akan bisa sembuh kecuali jari itu sendiri yang harus di obati.

Menyadari penyakit dendam didalam hatinya adalah langkah pertama menuju kesembuhan. Kemudian berlatih melihat orang lain dengan mata "husnudzon " serta melihat sisi positifnya. Dan juga menghidari membicarakan dan mendengar kejelekan orang lain .

Ada  cara yang amat penting untuk menghancurkan dendam dan kebencian ini, yaitu memberi hadiah seperti yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.  Seberat apapun jika kita marah kepada seseorang atau mendendamnya  maka berusahalah untuk bisa memberi hadiah untuk mengurangi rasa sakit di dalam hati. " Tahaadhuu tahaabbuu " salinglah engkau memberi hadiah niscaya engkau akan saling mencintai !

Cara yang lain yang juga amat penting untuk mengobati hati yang sakit ini adalah mendoakan orang yang kita dendami dengan do'a-do'a yang baik dan menghindari  mendoakannya dengan do'a yang jelek. Sebab, sungguh do'a jelek yang dipanjatkan untuk orang yang didendami tidaklah memberi arti positif bagi yang berdo'a dan yang dido'akan. Bahkan penyakit dendam akan semakin subur di hati orang yang mudah mendo'akan orang lain dengan do'a-do'a yang jelek. Jika do'a itu di kabul akan menjadikan orang yang di do'akan semakin tidak baik, dan sangat mungkin yang berdo'a ini akan menuai kejahatan baru dari orang yang di doakan. Juga disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa do’a jelek yang dipanjatkan akan di kembalikan kepada yang mendoakan itu sendiri

Akan tetapi jika do'a baik dipanjatkan, maka di samping hati kita akan semakin bersih ternyata ada janji dari Allah SWT, bahwa Allah SWT akan terlebih dahulu memberi kepada orang yang telah mendoakan sesuai doa yang di panjatkan dibandingkan dengan yang didoakan. Subhanallah…..

Dan setelah itu, untuk mengetahui apakah masih ada dendam di dalam hati kita  atau tidak? Tengoklah ke dalam hati kita masing-masing! Setalah kita berdoa sudahkah kita bisa dengan penuh kelegaan mendoakan orang-orang yang bermasalah dengan kita dengan doa yang baik? Jika belum bisa, nyatakanlah dengan pasti bahwa hati kita masih kotor.

Label: , , , , , , , , ,

04 April 2013


  
Investasi Ilmu Lebih Penting dibanding Investasi Harta

Investasi ilmu itu jauh lebih menguntungkan dibandingkan investasi harta, kenapa bisa demikian?. Mari kita sedikit bahas disini.

Deskripsi mudahnya adalah kita lihat negara Jepang, negara itu pernah mengalami keterpurukan puluhan tahun semenjak negaranya di bom atom, sumber daya alamnya sangat terbatas namun masyarakatnya tidak pernah mau menyerah. Strategi mereka adalah investasi ilmu jauh lebih penting dibandingkan harta. Hasilnya bisa kita lihat sekarang, bahkan di Indonesia produk-produk negara Jepang membanjir disini, Infrastruktur jalan raya, automotif dan lain-lain semuanya buatan Jepang, selain harganya ekonomis dan juga teknologinya canggih bisa dirasakan manfaatnya dikalangan ekonomi kelas ekonomi kebawah. Baiklah sebenarnya apa saja sih kelebihan investasi ilmu dibanding investasi harta.

Fakta menunjukan investasi ilmu jauh lebih penting dibandingkan investasi harta.

1.  Pernah dengar anak yang mendapatkan harta warisan besar dari orang tuanya, anak itu tidak cukup ilmu untuk mengelolanya, alhasil hartanya habis entah kemana. Tetapi sebaliknya ada anak dari keluarga miskin tetapi begitu giatnya menuntut ilmu hingga kemudian hari begitu banyak memiliki harta karena punya banyak ilmu yang bisa mendatangkan harta.
2. Ilmu itu warisan para nabi/ulama, sedang harta warisan para raja. Coba hitung berapa banyak para pahlawan di Indonesia yang dikenang sampai sekarang karena jasanya menyebarkan kemanfaatan ilmunya atau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.
3. Kita pernah dengar yang namanya korupsi ilmu, orang yang korupsi ilmu masih kedengaran aneh ditelinga kita, karena yang namanya ilmu itu hanya dipertanggungjawabkan untuk apa ia digunakan dan tidak pernah ditanyakan dari mana ia memperolehnya, sedangkan korupsi harta kita dengarkan banyak sekali di masyarakat sekarang. harta itu ditanya darimana dapatnya dan untuk apa dibelanjakannya.
4. Kita bisa bayangkan kalau banyak harta, pasti bingung menyimpanya, hati was-was karena takut hilang, apalagi harta yang didapat dari hasil korupsi bingung mau disimpan dimana. Sedangkan kalau banyak ilmu malah tidak repot karena ia disimpan di kepala kita, semakin kita amalkan/ajarkan semaikn bertambah ilmu kita (tidak takut kehilangan ilmunya malah semakin menambah keyakinannya akan ilmu)
5. Untuk menjadi pengusaha sukses harus punya kemauan kuat untuk terus belajar, demi pengembangan usahanya tak sedikit buktinya seminar-seminar kewirausahaan walaupun tiketnya mahal masih laris manis dibeli dan masih tinggi peminatnya. Karena mereka tahu betapa pentingnya investasi ilmu.

Jadi marilah kita mencari ilmu sebanyak mungkin, harta yang ada kita gunakan untuk menuntut ilmu, bukan malah sebaliknya menggunakan ilmu untuk mencari harta. Tindakan itu kurang tepat karena nilai ilmu tak sebanding dengan harta. Singkatnya begini " kita gunakan ilmu sehingga kita bisa menjadi manusia bermanfaat maka secara otomatis harta datang mengikuti sebagai bekal untuk menebar kemanfaatan".

Saya jadi teringat dengan pesan Allah SWT dalam Al-Quran : "Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S Al-Mujadillah :11)

Mungkin anda punya pendapat lain, mari kita diskusi disini.

Label: , , , , , , , , ,

29 Juni 2011


Pacaran atau Ta'aruf

Ada seseorang yang mengeluh karena belum punya pacar, setelah punya pacar masih saja merasa khawatir apakah pacar itu jodoh kita atau bukan. Sebenarnya kita tidak perlu merasa khawatir karena setiap manusia yang dilahirkan bersama jodohnya. Tinggal bagaimana usaha kita untuk menjemput jodoh tersebut. Kondisi sekarang identik dengan pacaran sebagai sarana untuk menjemput jodoh. Ada pertanyaan, sebenarnya pacaran itu boleh atau tidak dalam Islam karena pacaran cenderung mendekati zina?. Persoalannya bukan boleh tidaknya pacaran, karena istilah pacaran itu sendiri adalah kata bahasa yang baru di zaman sekarang, kalau di Islam ada istilah ta'aruf, "saling mengenal" dan perkenalan itupun harus ada yang mendampingi, yang boleh dilihat muka dan telapak tangan.

Salah satu teman saya yang agak "preman" mengistilahkan pacaran sebagai bentuk usaha menjemput jodoh, ia bilangnya pacaran sebagai sarananya, soal pacaran mendekati zina atau tidak itu urusan lain. Lain halnya komentar dari teman saya yang ikhwan (sedikit berjanggut) mengatakan sarana untuk menjemput jodoh adalah ta'aruf dengan akhwat dengan perantara ikhwan atau akhwat yang lain. Dari dua komentar teman saya tadi jelas bahwa istilah pacaran atau ta'aruf adalah hanya bahasa, yang sangat perlu diperhatikan adalah efeknya apakah  itu mendekati zina atau tidak. Zaman Rasul SAW memang tidak ada istilah pacaran yang ada hanyalah proses ta'aruf, jadi soal pacaran itu bukan boleh atau tidak boleh melainkan dampak dari keduanya. Bisa saja sang Ikhwan saat ta'aruf mendekati zina karena setan itu menggodanya.

Label:

06 Juni 2011


Ketidak percayaan dalam Keluarga

Hari ini, teman saya curhat mengenai keluarganya. Sekitar setahun yang lalu mereka bercerai karena pihak istri menggugat ke pengadilan minta di cerai, padahal sang suami memaafkan atas perbuatan istri yang tidak benar terhadapnya. Singkatnya, diawali dari ketidak percayaan salah satu pasangan yang kemudian berujung kepada saling balas dendam, si suami pernah di ajak oleh teman-temannya untuk mampir ke warung remang-remang, tapi dia tidak pernah mau untuk melakukan hal yang tidak benar, dia masih punya prinsip keyakinan agama yang dianutnya. Karena ia terbawa oleh pergaulan teman-temannya, sehingga setiap kali diajak teman-temannya selalu menolaknya, merasa tidak enak sama teman-temannya karena dianggap banci, penakut dan lain-lain maka ia akhirnya mau ikut tetapi tidak mau melakukan perselingkuhan.

Sang suami selalu bercerita kalau setiap mau pergi, waktu itu libur shift dan si istri lembur. Istrinya percaya kalau suaminya tidak macam-macam di luar. Celakanya, sang suami menyimpan no. telp gadis temannya. akhirnya ketika pulang, ia dalam kondisi tidur dan kecapean si gadis temannya itu mis call dan yang menjawab adalah istrinya. Akhirnya, sang istri marah karena telah mengkhianati kepercayaannya, padahal si suami hanya iseng-iseng. tetapi tetap saja itu sudah mendekati zina dan si istri tidak percaya lagi, akhirnya istrinya balas dendam. "Kamu bisa kenapa saya tidak bisa." begitulah kata yang diucapkan istrinya, dikiranya bercanda tetapi lama-kelamaan si suami mulai curiga dengan perbuatan istrinya, sehingga sampai ditelusurinya dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, istrinya berselingkuh dengan orang lain. Astagfirullah, begitulah ucap sang suami, saya memaafkan kamu, asal kamu mau bertobat dan berubah, karena istrinya malu maka ia menggugat cerai ke pengadilan agama, padahal saat sidang si suami tidak datang tetapi putusan pengadilan menjatuhkan talaq 3 kepadanya.

Awalnya keluarga teman saya dibangun diatas kepercayaan, tetapi diakhiri dengan ketidak percayaan. Sungguh kasihan teman saya tadi, semoga kita tetap bisa saling menjaga kepercayaan, amanah dalam berumah tangga, pasangan yang bisa saling menguatkan di saat susah dan senang.

Label:

19 Desember 2009


Penjual Keripik Singkong

Habis pulang kerja, saya langsung melaju ke salah satu pasar swalayan di daerah Kreo, menjemput istri yang habis berbelanja untuk keperluan Rasyid. Tak lama kemudian, entah kenapa mata saya langsung tertuju ke penjual keripik singkong yang duduk di depan teras pasar swalayan yang menjajakan dagangannya, langsung saya menghampirinya sambil menanyakan berapa harga satu bungkus keripik singkong, “berapaan bu satu bungkus keripik ini?.” tanya saya, ibu penjual keripik singkong itu menjawab : “yang satu bungkus ini harganya Rp 10.000,00 tapi kalo enam bungkus yang kecil-kecil ini Rp 12.000,00.” Ada perasaan senang dan bahagia ketika dagangannya saya beli karena sebelumnya terlihat murung mungkin dari semenjak pagi belum laku-laku jualannya.
Istri bertanya ke saya, “kenapa abi langsung beli keripik itu, padahal ibu penjual keripik itu dari tadi nawarin ke neng, tapi neng gak mau.” Saya langsung menjawab. “abi ingat Mak.” Kemudian istri saya langsung menjawab :”subhanalloh, pantes dari tadi abi gak nawar lagi harga keripik itu, tapi langsung dibeli.”
Setidaknya saya ingin mengajarkan ke istri saya bahwa kalau kita berbelanja itu harus seimbang, kita berani belanja ratusan ribu rupiah dipasar swalayan dan tidak pernah menawar padahal pasar swalayan itu milik orang asing, pemilik modal besar yang kalau kita semua belanja akan menguntungkan investor tetapi kenapa kita tidak mau menyeimbangkan ekonomi rakyat menengah kebawah seperti penjual keripik singkong tadi, porsi belanja kita harus diseimbangkan karena kalau tidak seimbang sama juga kita telah menambah pengangguran baru dengan tidak memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan perekonomian rakyat kecil. Tegas saya ke istri sambil menatapnya dalam-dalam.


Wassalam,
Abu Rasyid

Label:

26 November 2009


Anak Kecil Penjual Koran




Setiap pulang kerja, saya melewati lampu merah disekitar Jl Veteran Tangerang, di trotoar selalu ada pengemis yang meminta-minta, tak sengaja saya melihat anak kecil perempuan yang menurut saya umurnya sekitar 11 tahun sedang bercanda dengan pengemis itu, ketika saya memperhatikan pengemis dan anak kecil itu sedang bercanda mereka jadi salah tingkah, “eh…itu ada yang ngeliatin kita….malu” gumam sang pengemis ke anak penjual Koran itu. “lagian bapak godain saya …..orang saya lagi jualan…”, jawab anak kecil itu.

Keakraban, canda tawa dari pengemis dan anak penjual Koran itu seperti anak dengan ayahnya, terbersit dalam hati ini ingin bertanya ke anak kecil itu untuk menanyakan “kamu tinggal dimana?, sekolah kelas berapa? Ayah kamu dimana?”, karena lampu hijau akhirnya saya langsung melaju.

Saya sangat merasakan keakraban antara bapak pengemis dengan anak penjual koran itu, menurut saya kemungkinan besar ayah anak itu tidak bertanggung jawab, anak sekecil itu menanggung beban berat yang seharusnya merasakan kehangatan kasih sayang dari ayahnya, pendidikan layak untuknya dan bisa bermain dengan teman-teman sebayanya.



Dari pengamatan-pemahaman seperti itu saya menemukan kearifan, pandangan hidup saya jadi berputar bahwa masih banyak anak yang terlantar, yang seharusnya mendapatkan hak pengasuhan dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Jadi teringat kisah-kisah nyata anak terlantar yang dituangkan dalam buku karya Irwan Rinaldi ”Aku Mau Ayah”.

Label:

15 November 2009


Abdurrasyid, Semoga Abi bisa menjadi pahlawanmu

Hari ini saya mengikuti acara bedah buku “Aku Mau Ayah”. Buku karangan Irwan Rinaldi di Paparon’s Warung Jati, Jakarta Selatan. Buku yang sangat inspiratif dan menggugah hati saya untuk menjadi seorang ayah ”beneran”. Karena kebanyakan dari kita sebagai ayah terlalu ”cuek” secara psikologis terhadap perkembangan anak kita. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga banyak anak yang mengeluh, frustasi dan akhirnya anak-anak sering berkata kepada kita sebagai ayah ” Aku Mau Ayah, bukan Bapak”. Lha itu kan Bapakmu, tidak aku mau Ayah. Kebanyakan anak sekarang memang kehilangan masa-masa emasnya antara usia 0-12 tahun, karena sang ayah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Saya bukan mempromosikan buku ”Aku Mau Ayah” melainkan saya mengajak kepada diri pribadi sebagai ”Ayah Sebenarnya” karena anak banyak yang ”yatim” secara psikologis, secara jasmani memang kita sebagai Ayah atau Bapak tetapi kita tidak tahu apa keinginan anak kita sebenarnya. Miris juga ketika saya melihat setiap anak yang berada dijalanan, ditrotoar jalan lampu merah, masa-masa emas mereka untuk menikmati bersama kedua orang tuanya, itu juga yang menggerakan hati saya untuk mengembangkan dan mempromosikan blog gerakan seratus rupiah demi anak-anak yang kurang mampu. Karena saya sendiri dikeluarga berjuang keras untuk meraih pendidikan yang layak dengan cara meraih beasiswa kesana kemari.

Kembali ke topik ”Aku Mau Ayah”. Sebenarnya betul ga kita menjadi ayah sesungguhnya dikeluarga kita. Betul tidak kita menjadi seorang Ayah, seorang Suami yang setiap saat (24 Jam) ”peduli” terhadap anak istri kita. Bisa jadi ketika kita berangkat ke kantor lebih pagi karena menghindari disuruh istri cuci pakaian, lantas ada pertanyaan :”kan ada pembantu”. Justru dengan adanya pembantulah yang semakin menambah cueknya suami atau ayah, jangan heran kalau ada anak yang hatinya terpaut sama pembantu. Anak lebih kenal ke pembantu daripada kepada kedua orangtuanya.
Bisa jadi hikmah yang bisa diambil ketika Fatimah Azzahra (putri kesayangan Rasulullah SAW) mohon dicarikan satu pembantu untuk mengurus rumah tangganya, tetapi apa jawaban Rasulullah SAW kepada putrinya. ”Maukah aku tunjukan bahwa seluruh isi dunia ini menjadi kepunyaanmu, orang-orang kaya sekalipun tidak akan bisa menandingimu jikalau kamu membaca subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, wala ilahailallah wallahu akbar 33 kali, yang kemudian dijadikan bacaan dzikir selepas shalat lima waktu. Mengapa Rasulullah SAW mengajarkan seperti ini kepada putrinya dibandingkan mencarikan satu pembantu, padahal kalau Rasul SAW mau, jangankan satu pembantu, sepuluh pembantu juga langsung dikasih. Ternyata dibalik permintaan putrinya itu bahwa seberat apapun mengurus rumah tangga, menjadi seorang istri atau ayah itu jauh lebih mulia karena dalam pengurusan rumah tangga yang di iringi dengan do’a maka seluruh dunia beserta isinya ini menjadi milik kita, itulah kekuatan do’a. Ketika kita mencuci pakaian istri atau suami sambil berdo’a sehingga Allah SWT ridho dan merahmati rumah tangganya, ketika memandikan bayi sambil berdo’a maka Allah SWT ridho dan merahmati, ketika mengasuh dan mendidik anak sambil berdo’a maka Allah meridhoinya.

Tetapi banyak alasan dijaman sekarang yang katanya ”jaman edan” semuanya harus serba uang, tidak ada yang gratis, buang air kecil aja bayar. Sehingga dalam hal pengurusan anak sang istri harus membantu mencari nafkah tambahan buat suaminya dan akhirnya punya seorang pembantu. Di tambah lagi paradigma bahwa menjadi seorang suami itu harus pintar mencari uang sebanyak-banyaknya sehingga yang ada dipikiran suami itu bagaimana mencari uang atau materi sebanyak-banyaknya, bukan tidak boleh melainkan harus seimbang dengan memperhatikan efek psikologis rumah tangga.
Pengalaman saya selama satu tahun ini bahwa istri sebenarnya lebih membutuhkan pendampingan sang suami untuk bersama-sama ketimbang yang lain, terlebih-lebih dalam hal pengurusan anak, memang benar apa yang dikatakan Nabi SAW, apa yang kita cari itulah yang kita dapatkan dan nanti diakhirat kelak akan dilemparkan kemuka kita apa yang menjadi niat kita, apakah ikhlas atau tidak, apakah yang kita cari selama ini.

Rasyid, mungkin selama ini abi kurang memperhatikanmu, selama lima bulan ini abi terlalu sibuk dengan diri abi sendiri, padahal engkau lebih berharga dibandingkan yang lain. Rasyid, tulisan ini sengaja abi tulis untuk mengingatkan diri abi sendiri, biarkan abi menjadi pahlawanmu, menjadi pejuang dikeluarga. Rasyid, meskipun abi belum bisa menjadi seorang ”Ayah yang kau mau” tetapi dalam setiap bobo mu abi selalu berdo’a semoga Allah SWT melindungimu, menjagamu agar tetap taat kepada-Nya, hati abi tetap terpaut kepadamu. Rasyid, beri kesempatan abi untuk menjadi seorang ”Ayah yang kau mau”. Abi tetap sayang, tetap cinta dan hati abi hanya untuk Allah SWT dan dirimu (maaf ya umi, abi lagi berdo’a untuk rasyid) amiiiin ya robbal ’alamin.

Jakarta, sabtu 14 November 2009.
Jam 10.00 wib, Paparon’s Warung Jati

Abu Rasyid.

Label: