06 September 2013

ARTI SEBUAH HARAPAN
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Alangkah banyaknya pekerjakan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesutu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah tempat pandang dan penilaian Allah SWT.

Kemulyaan seseorang tergantung pada apa yang ada dikandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang Ustadz, pejabat semua sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa : Karena niat yang terkandung di hatilah ada beberapa pekerjaan yang terlihat sebagai pekerjaan dunia, akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat. Ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat, akan tetapi dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di akhirat.

Yang lagi shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Yang hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkan nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.

Marilah kita insyafi makna ini agar iktivitas kita ada nilainya di hadapan Allah. Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajad dua roka’at, kemudia memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenung ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apaun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik. Dan bagaimanapun juga kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
Wallahu a'lam bissawab.

Label: , , , , , , , , ,

30 April 2013

Kenapa Hidup Ini semua terlihat jahat?

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berlapang dada. Jika kita harus marahpun tidak boleh mendendam. Inilah obat kesejukan hati, penghantar keindahan hidup dalam kebersamaan. Hati yang pendendam akan selalu tersiksa. Selama ia masih hidup bersama dengan sesamanya maka ia akan selalu menemukan kesalahan. Karena manusia adalah makhluk yang bisa bersalah.

Sahabatku, diceritakan ada seseorang yang mengeluhkan  rasa sakit di  setiap bagian tubuhnya apabila disentuh oleh jari telunjuknya. Dan Ia pun berusaha untuk  mengobati rasa sakitnya . Namun  sakit itupun tidak kunjung sembuh . Sekujur tubuhnya masih saja terasa sakit jika disentuh  oleh jari telunjuknya.

Sungguh orang tersebut tidaklah akan pernah menemukan obat jika ternyata yang di periksakan ke dokter adalah hanya bagian tubuh yang disentuh oleh jari telunjuknya saja. Sementara ia melupakan jari telunjuknya, yang justru merupakan sumber dari sakit itu sendiri.

Perumpamaan diatas adalah sebuah gambaran tentang sikap hati yang penuh dendam dan kedengkian. Ia akan sulit hidup didalam sebuah kebersamaan. Dalam pandangannya semua orang seolah-olah memusuhinya dan tidak ada yang benar. Padahal yang menjadikan orang lain menjadi tidak baik dalam pandangannya adalah karena hatinya sendiri yang telah kotor.

Hati yang akan mudah tersinggung dan mendendam. Jika ada yang berbuat salah kepadanya akan selalu di ingat dan di simpan di dalam hatinya. Bahkan untuk seseorang yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan kepadanya, maka sudah harga mati baginya untuk dicap sebagai  penjahat .

Ia adalah jari yang sakit, disaat bersentuhan dengan anggota yang sehat akan merasa sakit .Dan tidak akan bisa sembuh kecuali jari itu sendiri yang harus di obati.

Menyadari penyakit dendam didalam hatinya adalah langkah pertama menuju kesembuhan. Kemudian berlatih melihat orang lain dengan mata "husnudzon " serta melihat sisi positifnya. Dan juga menghidari membicarakan dan mendengar kejelekan orang lain .

Ada  cara yang amat penting untuk menghancurkan dendam dan kebencian ini, yaitu memberi hadiah seperti yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.  Seberat apapun jika kita marah kepada seseorang atau mendendamnya  maka berusahalah untuk bisa memberi hadiah untuk mengurangi rasa sakit di dalam hati. " Tahaadhuu tahaabbuu " salinglah engkau memberi hadiah niscaya engkau akan saling mencintai !

Cara yang lain yang juga amat penting untuk mengobati hati yang sakit ini adalah mendoakan orang yang kita dendami dengan do'a-do'a yang baik dan menghindari  mendoakannya dengan do'a yang jelek. Sebab, sungguh do'a jelek yang dipanjatkan untuk orang yang didendami tidaklah memberi arti positif bagi yang berdo'a dan yang dido'akan. Bahkan penyakit dendam akan semakin subur di hati orang yang mudah mendo'akan orang lain dengan do'a-do'a yang jelek. Jika do'a itu di kabul akan menjadikan orang yang di do'akan semakin tidak baik, dan sangat mungkin yang berdo'a ini akan menuai kejahatan baru dari orang yang di doakan. Juga disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa do’a jelek yang dipanjatkan akan di kembalikan kepada yang mendoakan itu sendiri

Akan tetapi jika do'a baik dipanjatkan, maka di samping hati kita akan semakin bersih ternyata ada janji dari Allah SWT, bahwa Allah SWT akan terlebih dahulu memberi kepada orang yang telah mendoakan sesuai doa yang di panjatkan dibandingkan dengan yang didoakan. Subhanallah…..

Dan setelah itu, untuk mengetahui apakah masih ada dendam di dalam hati kita  atau tidak? Tengoklah ke dalam hati kita masing-masing! Setalah kita berdoa sudahkah kita bisa dengan penuh kelegaan mendoakan orang-orang yang bermasalah dengan kita dengan doa yang baik? Jika belum bisa, nyatakanlah dengan pasti bahwa hati kita masih kotor.

Label: , , , , , , , , ,

04 April 2013


  
Investasi Ilmu Lebih Penting dibanding Investasi Harta

Investasi ilmu itu jauh lebih menguntungkan dibandingkan investasi harta, kenapa bisa demikian?. Mari kita sedikit bahas disini.

Deskripsi mudahnya adalah kita lihat negara Jepang, negara itu pernah mengalami keterpurukan puluhan tahun semenjak negaranya di bom atom, sumber daya alamnya sangat terbatas namun masyarakatnya tidak pernah mau menyerah. Strategi mereka adalah investasi ilmu jauh lebih penting dibandingkan harta. Hasilnya bisa kita lihat sekarang, bahkan di Indonesia produk-produk negara Jepang membanjir disini, Infrastruktur jalan raya, automotif dan lain-lain semuanya buatan Jepang, selain harganya ekonomis dan juga teknologinya canggih bisa dirasakan manfaatnya dikalangan ekonomi kelas ekonomi kebawah. Baiklah sebenarnya apa saja sih kelebihan investasi ilmu dibanding investasi harta.

Fakta menunjukan investasi ilmu jauh lebih penting dibandingkan investasi harta.

1.  Pernah dengar anak yang mendapatkan harta warisan besar dari orang tuanya, anak itu tidak cukup ilmu untuk mengelolanya, alhasil hartanya habis entah kemana. Tetapi sebaliknya ada anak dari keluarga miskin tetapi begitu giatnya menuntut ilmu hingga kemudian hari begitu banyak memiliki harta karena punya banyak ilmu yang bisa mendatangkan harta.
2. Ilmu itu warisan para nabi/ulama, sedang harta warisan para raja. Coba hitung berapa banyak para pahlawan di Indonesia yang dikenang sampai sekarang karena jasanya menyebarkan kemanfaatan ilmunya atau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.
3. Kita pernah dengar yang namanya korupsi ilmu, orang yang korupsi ilmu masih kedengaran aneh ditelinga kita, karena yang namanya ilmu itu hanya dipertanggungjawabkan untuk apa ia digunakan dan tidak pernah ditanyakan dari mana ia memperolehnya, sedangkan korupsi harta kita dengarkan banyak sekali di masyarakat sekarang. harta itu ditanya darimana dapatnya dan untuk apa dibelanjakannya.
4. Kita bisa bayangkan kalau banyak harta, pasti bingung menyimpanya, hati was-was karena takut hilang, apalagi harta yang didapat dari hasil korupsi bingung mau disimpan dimana. Sedangkan kalau banyak ilmu malah tidak repot karena ia disimpan di kepala kita, semakin kita amalkan/ajarkan semaikn bertambah ilmu kita (tidak takut kehilangan ilmunya malah semakin menambah keyakinannya akan ilmu)
5. Untuk menjadi pengusaha sukses harus punya kemauan kuat untuk terus belajar, demi pengembangan usahanya tak sedikit buktinya seminar-seminar kewirausahaan walaupun tiketnya mahal masih laris manis dibeli dan masih tinggi peminatnya. Karena mereka tahu betapa pentingnya investasi ilmu.

Jadi marilah kita mencari ilmu sebanyak mungkin, harta yang ada kita gunakan untuk menuntut ilmu, bukan malah sebaliknya menggunakan ilmu untuk mencari harta. Tindakan itu kurang tepat karena nilai ilmu tak sebanding dengan harta. Singkatnya begini " kita gunakan ilmu sehingga kita bisa menjadi manusia bermanfaat maka secara otomatis harta datang mengikuti sebagai bekal untuk menebar kemanfaatan".

Saya jadi teringat dengan pesan Allah SWT dalam Al-Quran : "Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S Al-Mujadillah :11)

Mungkin anda punya pendapat lain, mari kita diskusi disini.

Label: , , , , , , , , ,

27 Mei 2012

 Adab Belajar Menurut Islam


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab
Hakikat hidup adalah belajar. Hakikat belajar adalah proses transformasi diri menuju peningkatan kapasitas intelektual, keluhuran moral, kedalaman spiritual, kecerdasan sosial, keberkahan profesional, dan perubahan sosial menuju khaira ummah (umat terbaik). Dengan belajar, manusia bisa hidup bermartabat dan membangun peradaban yang bersendikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Perintah Allah SWT yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah membaca. (QS al-Alaq [96]:1-6). Perintah ini sangat penting karena inti belajar adalah membaca. Tidak ada proses pembelajaran yang tidak melibatkan aktivitas pembacaan. Dalam Islam, belajar adalah ibadah. "Menuntut ilmu itu (belajar) wajib bagi Muslim dan Muslimah." (HR Muslim).

Perintah membaca tersebut sarat dengan adab (etika) mulia. Tidak semua membaca itu disebut belajar atau mencari ilmu. Alquran mula-mula mengaitkan perintah membaca dengan bismi rabbik (atas nama Tuhanmu). Artinya, adab belajar mengharuskan pelajar untuk meneguhkan niat yang ikhlas karena semata-mata mengharap ridha Allah SWT, agar ilmu yang diperoleh membuahkan keberkahan dan memberi manfaat bagi orang lain.

Imam Syafi’i (150- 204 H) pernah “curhat” kepada gurunya, Waqi’ mengenai hafalannya yang buruk. Sang guru menasihatinya agar meninggalkan maksiat. Kata sang guru, ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Dengan demikian, belajar harus jauh dari perbuatan maksiat agar apa yang dipelajari menjadi “cahaya” yang dapat menerangi jalan hidup si pembelajar.

Selain bismi rabbik dan menjauhi maksiat, pelajar juga harus senantiasa berperilaku yang baik (husnul adab), rajin, tekun, rendah hati, dan selalu mengamalkan ilmunya. “Ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon yang tidak berbuah.”

Imam Syafi’i juga menegaskan bahwa ilmu itu bukan yang dihafal dalam pikiran, tetapi yang bermanfaat dalam perbuatan. Sabda Nabi SAW, “Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya (amalnya tidak semakin baik), maka ia hanya akan semakin jauh dari Allah.” (HR ad-Darimi).

Belajar menuntut optimalisasi kecerdasan, kesungguhan, ketekunan, dan kesabaran karena belajar itu bukan merupakan proses yang instan, (langsung berilmu) tetapi memerlukan kerja ikhlas, keras, dan cerdas.

Imam Syafi’i, pernah bersyair, “Engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali terpenuhinya enam hal, yaitu: kecerdasan, antusiasme (kesungguhan), kesabaran, bekal yang cukup, bimbingan guru, dan waktu yang lama.”

Jadi, belajar itu bukan sekadar datang ke sekolah atau kampus untuk mendengar dan mencatat apa yang disampaikan guru, melainkan juga berusaha mengembangkan pemikiran, pengetahuan, kepribadian, moralitas, dan profesionalitas.

Karena belajar itu ibadah, maka menurut Imam Ja’far as-Shadiq, belajar itu harus dimulai dengan thaharah (pembersihan diri) dan berwudhu agar terhindar dari godaan setan. Adab lainnya adalah menghormati guru dan ulama. Seorang pelajar juga dianjurkan untuk berlapang dada (toleran) dalam menghadapi perbedaan pendapat dan pemikiran. Wallahu a’lam
Redaktur: Heri Ruslan

Label: , , ,


Lara (2), Kecintaan pada Tuhan Menguatkannya Berjilbab

 REPUBLIKA.CO.ID, Menyelami kehidupan sebagai muslimah, membuat Lara mulai memahami bahwa Islam bukanlah agama buatan manusia. Islam adalah kebenaran. Yang menarik, Lara mengambil satu kesimpulan dimana setiap bayi yang lahir ke dunia sebenarnya adalah muslim.
"Awalnya aku tidak tahu bahwa I
slam itu adalah universal tidak hanya milik masyarakat Timur Tengah. Alhamdulillah, semakin banyak pengetahuan yang aku dapat tentang Islam, aku semakin percaya bahwa Islam adalah agama yang logis," paparnya.

Lara pun kian mantap untuk menerima Islam, dan hidup sebagai muslima. Ia pun tak ragu untuk mengucapkan dua kalimat syahat. "Alhamdulillah, aku mengucapkan syahadat tak lama sebelum ramadhan. Aku seolah tak sabar untuk melaksanakan puasa pertama," kata dia.

Usai bersyahadat, ia segera menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Ia laksanakan shalat dan puasa. Ia kaji Alquran dan hadist. Tak berselang lama, Lara mulai mengenakan jilbab.

Lara mengaku di awal-awa merasa belum siap untuk berjilbabTapi rasa cintanya kepada Allah SWT membuat ia kuat untuk mengenakan jilbab. "Tak mudah memang mengambil langkah itu," katanya.

Ia tak memungkiri rrasa hawatir akan menerima perlakuan buruk dari orang lain, terutama keluarga. Karena itu, Lara tak langsung melainkah berlatih mengenakan jilbab. Ia hanya kenakan jilbab saat menuju masjid guna menghadiri pengajian. Perlahan, Lara mulai mengenakan jilbab secara permanen.

"Ada satu hari dimana aku akhirnya tidak bisa lagi keluar ruangan dengan kepala tanpa tertutup kain. Aku sadar, itu akan membuat orang lain heran. Tapi aku tidak mungkin menyenangkan setiap orang," kata dia yang setelah memakai jilbab, Lara merasa lengkap menjadi seorang muslim.

Yang membuat heran Lara, sebagian masyarakat Kanada kerap berkomentar soal jilbab. Padahal mereka tahu, bahwa para pelayan Gereja ada pula yang mengenakan tutup kepala. Namun, tiada ada seorang pun warga Kanada yang memprotes hal itu.

Semenjak itu, Lara pun mulai mendalami Islam. Ia belajar bahasa Arab dengan harapan mempermudahnya membaca Alquran. "Insya Allah, aku terus berjuang untuk menjadi muslimah yang saleh. Aku mulai dengan melawan sifat jahat dalam diri. Tentu tidak mudah, karena membutuhkan usaha yang terus menerus tanpa akhir," pungkasnya.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Agung Sasongko

Label: , ,

Lara (I), Mantan Atheis Ini Dulu Protes Saat Islam Dipojokkan



REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA - Gadis keturunan Skandinavia ini lahir  dan besar di Kanada. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah berafiliasi dengan agama apapun. "Aku dulu seorang Atheis," ungkapnya.

Namun, menginjak remaja ia mulai untuk mempercayai adanya Tuhan. Meski demikian, ia menolak untuk berafiliasi dengan agama apapun. "Aku bahkan tidak tertarik dengan ajaran Kristen," ucapnya.

Seiring perjalanan waktu, tepatnya semasa kuliah, Lara mulai bersinggungan dengan Islam. Ia berkenalan dengan beberapa mahasiswa Muslim yang berada di Kanada. Dari situlah, ia mulai belajar tentang Islam. Meski, bukan berarti Lara tertarik untuk mulai menerima agama.

Sikapnya yang keras akhirnya melunak, tatkala ia membaca artikel media tentang Islam. Saat itu, ia merasa pemberitaan terhadap umat Islam tergolong keterlaluan. "Aku sempat mengirimkan beberapa artikel ke sejumlah media. Jujur, aku membela Islam," kata dia.

Dari pembelaan itu, Lara mulai kembali untuk mengenal lebih dekat tentang Islam. Ia pun meminta kepada teman kuliahnya yang muslim guna mendapatkan buku tentang Islam. "Aku merasa apa yang dituliskan media banyak kekeliruan. Apa yang aku baca kian memperlihatkan kebenaran tentang Islam," kata dia.

Tak hanya lewat buku, Lara pun belajar tentang Islam secara langsung lewat koleganya yang muslim. Lara merasakan kenyamanan tanpa ada tekanan terhadapnya.
Saat itulah, Lara mulai berperilaku layaknya seorang muslimah. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol dan babi. Ia juga tidak lagi berpakaian mencolok . "Aku hanya memakan daging halal, tidak mengenakan riasan berlebih, dan berpakaian serba tertutup," ungkapnya.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: Watpadd.com

Label: , ,

02 Maret 2011

Vaksinasi Dan Sistem Dajjal

Koran Republika edisi Sabtu 25 April 2009 memuat sebuah berita yang sebenarnya sangat penting bagi ummat Islam. Letaknya di pojok kanan halaman 12. Berita itu memuat hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan yang menyimpulkan bahwa Vaksin Meningitis mengandung enzim porchin dari babi. Bayangkan..! Vaksin yang selama ini diharuskan bagi calon jamaah haji ternyata mengandung zat najis, bukan sekedar haram. Kita tahu bahwa dalam ilmu fiqh membersihkan tubuh dari bahan najis sejenis babi mengharuskan kita mencuci bagian tubuh yang tersentuh najis itu dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Lalu bagaimana caranya bila zat najis itu dimasukkan ke dalam tubuh kita? Adakah cara untuk membersihkannya? Padahal di antara dampak barang haram, apalagi najis, yang masuk ke dalam tubuh seorang muslim ialah tidak bakal dikabulkannya doa. Begitu kurang lebih penegasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Berarti para jamaah haji kita yang sudah bersusah payah dengan biaya besar pula pergi ke tanah suci, ternyata dengan syarat vaksin ini justru menyebabkan berbagai doa yang diajukannya di tempat-tempat mustajab menjadi sia-sia? Wallahua’lam.
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ
وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Kemudian Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam menyebut tentang seseorang yang baru pulang safar lalu menengadahkan tangannya ke langit berdoa: “Ya Rabb, ya Rabb.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia menyantap apa-apa yang haram. Bagaimana yang demikian bisa dikabulkan? ” (HR Muslim 1686)

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan solusi dari masalah di atas. Kami cuma ingin mengingatkan pembaca bahwa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini memang sungguh zaman yang tidak berfihak kepada Islam dan kaum muslimin. Kita sedang menjalani era paling kelam dalam sejarah Islam. Inilah babak keempat dari era Akhir Zaman. Inilah babak kepemimpinan para mulkan jabbriyyan (raja-raja / penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak sambil mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Sesudah runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara ummat Islam –yakni al-khilafa al-Islamiyyah- maka Allah menyerahkan giliran kepemimpinan ummat manusia kepada kaum kuffar. Apalagi setelah memasuki era globalisasi semakin tampak saja dominasi kaum kuffar atas kehidupan manusia di planet bumi ini. Dengan komandan negara Amerika Serikat di bawah konsultan Yahudi, dunia digiring menjauh dari nilai-nilai Rabbani. Pantas bilamana seorang ulama Pakistan bernama Imran Hussain berkata: ”We are living in a godless civilization.” (Kita sedang hidup dalam peradaban yang tidak bertuhan).

Problem vaksinasi hanyalah salah satu contoh kasus dari dominasi nilai-nilai kafir yang sedang mendominasi dunia dewasa ini. Pada hakikatnya segenap lini kehidupan dunia modern dewasa ini sarat dengan permasalahan jika ditinjau dengan perspektif ajaran Allah Al-Islam. Ketika dunia dipimpin oleh kaum kuffar wajarlah bila kita temukan berbagai lini kehidupan ummat manusia menjadi bermasalah. Semua ini tidak terlepas dari fakta bahwa para pemimpinnya sendiri tidak mengerti arah dan tujuan hidup di dunia. Lalu bagaimana lagi bisa diharapkan mereka dapat mengantarkan ummat manusia yang mereka pimpin menuju arah dan tujuan yang jelas dan benar?

Seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris bernama Ahmad Thomson menulis sebuah buku berjudul ”Dajjal:The Anti-Christ.” Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”Sistem Dajjal.” Dalam bukunya  ia menjelaskan bahwa sejak hampir satu abad yang lalu dunia makin hari makin membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Kafir yang lebih cocok disebut sebagai Sistem Dajjal. Ia berpandangan bahwa Dajjal memiliki tiga sisi tampilan. Pertama, sisi sebagai gejala sosial budaya global.  Kedua, Dajjal sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata. Dan ketiga, Dajjal sebagai individu atau oknum. Keberadaan sistem dan para pengurusnya itu, merupakan bukti dari Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan Dajjal sebagai kekuatan gaib. Dilihat dari semua pertanda yang nampak dewasa ini, kedua sisi Dajjal tersebut - yang akan dijelmakan oleh si Dajjal sendiri - sudah sangat kentara, ini berarti kemunculan Dajjal sudah sangat dekat.
Jadi berdasarkan tulisan Ahmad Thomson dewasa ini Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata sudah mewujud. Tinggal Dajjal sang individu atau oknum yang belum muncul. Seluruh nilai-nilai yang berlaku dalam sistem Dajjal secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Sistem Kenabian. Sebab sistem Dajjal berisi nilai-nilai kekafiran sedangkan sistem Kenabian mengandung nilai-nilai keimanan. Baik itu dalam bidang ideologi, sosial, politik, seni-budaya, ekonomi, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan keamanan. Tentu tidak ketinggalan ia juga mencakup aspek kehidupan yang disebut dengan dunia medis. Coba perhatikan kutipan tulisan Ahmad Thomson di bawah ini:

Sebagaimana sistem pabrik dan sistem pendidikan kafir, sistem medis kafir dijalankan bak sebuah bisnis. Sistem medis kafir tak begitu peduli pada penyembuhan dan apa yang bermanfaat atau tidak. Bahkan merupakan sebuah bisnis besar bagi perusahaan-perusaha an farmasi yang memasok obat-obatan dan peralatannya, seraya memelihara beribu-ribu pekerja yang dikaryakan untuk menambal para pasien, agar mereka pun bisa dikaryakan. Kini, kita lebih sering mendengar mahasiswa kedokteran berbicara mengenai gaji-gaji besar yang mereka cita-citakan – apabila telah lulus ujian dan mendapat secarik kertas – dibanding dengan berbicara mengenai cita-cita mereka untuk menyembuhkan banyak manusia, atau berbicara mengenai bagaimana cara mencapai penyembuhan tersebut.

Ahmad Thomson menggambarkan sistem medis kafir sebagai sebuah bisnis besar yang  berkembang guna  melestarikan proses produsen-konsumen. Sistem medis dalam sistem Dajjal tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar menghapus penyakit dan menimbulkan kesehatan. Ia malah melestarikan penyakit dengan mencekoki masyarakat obat-obatan kimiawi yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya industri farmasi menjadi industri yang sangat profitable (menguntungkan secara bisnis). Tak kecuali fenomena yang disebut dengan vaksinasi. Vaksinasi merupakan salah satu cara massif untuk menimbulkan ketergantungan masyarakat kepada sistem medis dan sistem farmasi kafir.

Dalam sebuah situs bernama informationliberati on:The news you’re not suppose to know  terdapat sebuah video yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut  melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination: the Hidden Truth (Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan) . Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini. Bagi yang berminat silahkan click http://www.informat ionliberation. com/?id=13924 . Di dalam situs itu ditulis:

“Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.” (Temukan bagaimana vaksin terbukti  sia-sia belaka dan malah mengandung efek berbahaya untuk kesehatan Anda dan bagaimana ia sering keliru diyakini sebagai wajib)

Saudaraku, sungguh terasa bahwa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini benar-benar merupakan zaman penuh fitnah. Seandainya Allah tidak melindungi dan merahmati kita, niscaya kita terancam oleh kekuatan kaum kuffar yang setiap saat menebar kemudharatan. Kemudharatan mana tidak hanya mengganggu aspek fisik diri kita, melainakan mencakup aspek pemahaman bahkan aqidah kita.

Hidup di babak keempat era Akhir Zaman sungguh menuntut kita untuk sangat memperhatilkan peringatan Allah di bawah ini:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ
سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada  di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS Al-An’aam ayat 116)

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunujukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Label: