10 September 2013

Kisah Petani Desa

by Udinkarya.

Saudaraku yang di cintai Alloh, ada kisah nyata yang bisa dijadikan tauladan buat kita semua.

Singkat cerita, ada seorang petani yang bertanya kepada sang ustadz, petani ini memliki beberapa hektar sawah di kampungnya. Ada kejadia aneh, kenapa setiap panen padi selalu gagal meskipun berhasil pasti hasil panennya selalu dimakan tikus sawah. Lalu petani ini menceritakan setiap kejadian yang dialami dirinya, kenapa hidupnya selalu sial dan kurang beruntung.

Kemudian sang ustadz menanyakan bagaimana selama ini dia ibadahnya, do'anya, sholatnya, baca Al-Qur'annya, dan sebagainya. Lalu petani itu menjawab, kalau sholat 5 waktu dia selalu melakukannya meskipun hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja, sedang berdo'a dia jarang sekali itupun berdo'a ketika dalam keadaan sulit atau kepepet baru minta pertolongan, ketika ditanya terus baca Qur'annya gimana?. Petani itu menjawab, kalau saya baca Al-Qur'an setahun sekali dan itupun ketika ramadhan saja, sampai saya malu itupun tidak khatam katanya.

Selanjutnya petani itu disuruh untuk rutin berdo'a, diperbanyak sholatnya apalagi ditambah dengan yang sunah-sunahnya, dirutinkan juga baca Al-Qur'annya kalau bisa 1 bulan sekali khatam. Tak lama kemudian anjuran itu dilaksanakan petani. beberapa bulan kemudian petani itu kaget, sawah yang biasanya selalu diserang hama sudah tidak lagi, hasiil panen di lumbungnya yang biasa dimakan tikus sudah tidak lagi. Ini pertanda hasil usahanya di ridhoi dan di berkahi oleh Alloh SWT. Kalau Alloh SWT sudah ridho, apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang jauh bisa dekat, yang sulit bisa menjadi mudah. Insya Alloh...

Sahabatku, kisah petani tadi bisa jadi menjadi gambaran hidup kita mengenai masalah hidup yang tidak pernah selesai-selesai, hidup memang penuh dengan masalah tetapi masalah seberat apapun pasti ada solusinya, ibadah petani tadi juga bisa jadi gambaran kita yang selama ini malas unutk berdo'a, malas untuk sholat apalagi baca Al-Qur'an.. Mulai saat ini, detik ini mari perbanyak do'a, do'akan anak-anak kita, istri suami kita, orangtua dan mertua kita, Jangan sampai kita miskin dan kering do'a karena do'a adalah tanda kedekatan kita kepada Alloh SWT, Saat ini kita juga perbanyak baca Qur'an, baca jangan ketika Ramadhan datang, kalau bisa tekadkan dalam diri untuk khatam 1 bulan sekali.Mudah-mudahan Alloh SWT memudahkan setiap langkah dan urusan kita..Aamiin.


Label: , , ,

06 September 2013

ARTI SEBUAH HARAPAN
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Alangkah banyaknya pekerjakan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesutu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah tempat pandang dan penilaian Allah SWT.

Kemulyaan seseorang tergantung pada apa yang ada dikandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang Ustadz, pejabat semua sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa : Karena niat yang terkandung di hatilah ada beberapa pekerjaan yang terlihat sebagai pekerjaan dunia, akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat. Ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat, akan tetapi dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di akhirat.

Yang lagi shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Yang hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkan nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.

Marilah kita insyafi makna ini agar iktivitas kita ada nilainya di hadapan Allah. Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajad dua roka’at, kemudia memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenung ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apaun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik. Dan bagaimanapun juga kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
Wallahu a'lam bissawab.

Label: , , , , , , , , ,

27 Mei 2013

Sebuah hadis riwayat dari Ibnu Majah dan Ibnu Hibban mengisahkan, suatu saat seorang lelaki dari Bani Salamah mendatangi Rasulullah SAW. Lelaki itu bertanya, apakah ia masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang telah tiada.

Rasul menjelaskan, berbakti kepada keduanya tak terbatas waktu. Selama hayat masih di kandung badan, seorang anak bisa berbakti kepada bapak dan ibunya. Bakti itu bisa berupa mendoakan keduanya, memintakan ampun, menyambung silaturahim kerabat-kerabatnya, serta memuliakan teman-temannya.

Karena itulah, kata Ketua Majelis As Shalihin, Ustaz Muhammad Saleh Hasan, tidak ada pemberhentian akhir untuk pengabdian kepada kedua orang tua selama anak masih hidup. Meskipun keduanya sudah meninggal dunia, anak tetap harus berbuat baik untuk keduanya.

Perbuatan baik bisa berupa amal saleh ataupun mendoakan keduanya sepanjang hayat. “Namanya anak, harus terus berbuat baik untuk kedua orang tua,” ujarnya kepada Republika, Rabu (20/3).

Menurutnya, birrul walidain tidak mengenal masa. Selama orang tua masih hidup, anak diharuskan menjaga ayah dan ibunya. Apa yang keduanya butuhkan hendaknya dipenuhi oleh anak-anaknya.

Banyak bentuk bakti kepada orang tua saat mereka masih hidup, di antaranya dengan mengunjunginya, tidak menyakitinya dengan kata-kata dan perbuatan. Anak selalu mendoakannya dan berkewajiban memberikan nafkah atau memberikan jaminan fasilitas kehidupan bila keduanya termasuk kategori fakir miskin.

Ada dua syarat kewajiban anak dalam memberi nafkah kepada kedua orang tuanya. Pertama, bila kedua orang tuanya termasuk kategori fakir miskin. Kedua, jika anak memiliki kelapangan rezeki dan berkemampuan dalam memberikan nafkah tersebut. Jadi, ketika seorang anak memiliki kemampuan finansial yang memadai dan orang tuanya termasuk kategori fakir msikin, dia wajib memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya. Nafkah yang diberikan kepada orang tuanya adalah sebuah kewajiban.

Jika keduanya sudah meninggal, anak bisa tetap berbuat baik untuk orang tuanya. Anak bisa mendoakan dan memohonkan ampun, melaksanakan pesan-pesannya, menjaga tali persaudaraan atau silaturahim dengan keluarga ayah atau ibunya, dan berbuat baik kepada teman-temannya.

Rasulullah pernah bersabda, dari Abdullah bin Abbas RA bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk bertanya. "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasul menjawab: "Ya." Saad berkata: "Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya." (HR Muslim).

Menurutnya, pahala menjadi hak orang yang beramal. Jika dia menghadiahkan kepada orang tuanya atau saudaranya yang Muslim, hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya. Allah memberikan banyak peluang untuk berbuat baik kepada orang tua atau saudara Muslim lainnya walaupun mereka sudah meninggal dunia.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom, Jember, Jawa Timur, KH Izzat Fahd, menyatakan, anak harus mematuhi apa pun yang diperintahkan kedua orang tua. Namun, jika orang tua memerintahkan kemaksiatan, anak harus menolaknya dengan bijaksana. "Tetap tidak boleh menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepada keduanya," papar Izzat.

Dia menyatakan, hal seperti ini adalah fakta bahwa etika di dalam Islam sangat diperhatikan. Dalam hal bersikap kepada orang tua pun diatur dalam ajaran agama. "Ini bentuk Islam sebagai agama yang sempurna," ujar Izzat menjelaskan. 

Label: , , ,