27 Mei 2013

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR - Ada dilema para guru mengaji dalam mengajar baca Alquran. Di satu sisi, saat berada di tempat mengaji anak bersemangat belajar membaca Alquran. Hanya, para murid tidak membuka Alquran-nya di rumah karena tidak ada contoh dari orang tua.
"Semestinya harus ada contoh dari orang tua, agar anak juga mengaji di rumahnya," kata Koordinator Taman Pendidikan Alquran Raudatul Quran dan Baitul Makmur Denpasar, Ahmad Hudori, Ahad (3/2).
Hal itu dikemukakan Hudori dalam sambutannya pada acara haflah atau perayaan khataman Alquran 12 orang santri dari kedua lembaga yang dipimpinnya. Kedua lembaga itu menggunakan metoda Qiroati dalam mengajarkan Alquran kepada anak didiknya.
Orang tua, kata Hudori, jangan hanya bisa menyuruh anak-anaknya belajar atau membaca Alquran. Akan tapi harus memberi contoh kepada anaknya.
Untuk itu, Hudori meminta kepada orang tua yang belum bisa membaca Alquran agar belajar. Pihaknya pun membuka kelas belajar Alquran untuk orang tua.
 "Jadi sambil mengantar dan menunggu anak-anaknya mengaji, para orang tua juga bisa belajar di lembaga yang sama, namun kelasnya dipisahkan," kata Hudpri.
Koordinator Metoda Qiroati Bali H. Zuwaini Hasan mengatakan, mengajar Alquran dengan metoda Qiroati tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. Melainkan, yang telah memiliki ijazah. Karena itu katanya, para guru yang mengajar dengan medota Qiroati kualitasnya sudah bisa dipertanggungjawabkan.
Anak-anak yang sudah menamatkan pelajaran Alquran, harap Zuwaini, agar tidak berhenti membaca Alquran. Mereka harus terus membacanya minimal dua halaman dalam sehari. Dengan demikian, ilmu yang sudah dikuasai tidak hilang. Selain itu, sang anak sudah ikut menjaga agama Islam tetap terpelihara.
"Di sejumlah negara, seperti Laos, Birma, Kamboja, jumlah umat Islam-nya menyusut, lantaran tidak ada guru yang mengajarkan membaca Alquran."

Label: ,

REPUBLIKA.CO.ID, WAYKANAN -- Titik tumpu pendidikan anak adalah orang tua dan bukan semata-mata guru di sekolah. Sehingga, orang tua jangan melepaskan pendidikan anak sepenuhnya ke sekolah.
"Orang tua harus berperan aktif terhadap pendidikan anak. Ini mengingat waktu untuk memberikan pendidikan oleh guru di sekolah sedikit dan lebih banyak di rumah,'' kata pegiat Komunitas Dongeng Dakocan Lampung, Iin Mutmainah, pada "Workshop Pembuatan Modul Parenting Skills" di aula Pemkab Waykanan, Blambanganumpu, Kamis.
Untuk mencapai pendidikan bagi anak secara utuh, orang tua harus mempunyai kemampuan mengasuh anak yang baik.
"Persoalan itu sangat mendasar,'' katanya. ''Karena secara persentase, guru mendidik anak hanya sekitar 20 persen. Sisanya adalah didikan orang tua.''
Strategi orang tua dalam mewujudkan kemampuan mengasuh cukup beragam seperti meningkatkan keterampilan berkomunikasi melalui pendekatan sikap, sosial, keterampilan fisik motorik, agama (moral dan akhlak), serta kebiasaan hidup bersih dan sehat.
"Orang tua harus memiliki pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, mengerti pola asuh yang baik bagi anak, dan memiliki waktu berkualitas bagi anak," kata Iin.

Label: , , ,

29 Mei 2011


JAKARTA,KOMPAS.com - Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di daerah-daerah masih banyak berfokus pada usia 5-6 tahun atau anak-anak yang bersekolah di Taman Kanak-kanak. Akibatnya, empat tahun pertama di masa emas anak-anak tersebut menjadi kurang diperhatikan, padahal di usia tersebut mereka juga perlu dimaksimalkan potensi dan tumbuh kembangnya. 

"Pendidikan anak usia dini atau PAUD itu penting mulai anak usia 0-6 tahun. Tetapi pemerintah daerah belum banyak yang mendukung karena tidak wajib seperti pendidikan dasar sembilan tahun," kata Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas, Hamid Muhammad, di Jakarta, Jumat (15/5).
Program PAUD merupakan salah satu program prioritas Depdiknas. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD tahun 2008 baru mencapai 50,03 persen dari 29,8 juta anak. Target APK PAUD formal maupun PAUD nonformal akhir tahun ini adalah 53,9 persen, baik yang dikelola Depdiknas maupun Departemen Agama.
Hamid mengatakan, upaya untuk meningkatkan akses pendidikan dilakukan terutama untuk perintisan PAUD di daerah terpencil, yaitu di 50 kabupaten dari 21 provinsi di Indonesia. Intinya, kata dia, pertama adalah untuk pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan pada pengelola PAUD di desa. Kedua, untuk para pembina di provinsi dan kabupaten. Ketiga, yang paling besar jumlahnya, adalah untuk pendirian lembaga PAUD. "Total 783 ribu anak yang bisa masuk program ini," katanya.

Hamid mengungkapkan, kendala yang dihadapi untuk mendongkrak APK PAUD adalah tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya PAUD. Anggota masyarakat, kata dia, terutama di daerah pedesaan kurang peduli terhadap PAUD. "Bagi mereka yang penting masuk sekolah dasar. Padahal betapa pentingnya PAUD sebagai landasan wajib belajar sembilan tahun," katanya.

Pemerintah, kata Hamid, juga memberikan perhatian terhadap tutor PAUD. Dia menjelaskan, tutor PAUD tidak seperti guru pada taman kanak-kanak yang diwajibkan berkualifikasi S1 ditambah pendidikan profesi. Tutor PAUD, kata dia, dilihat dari kompetensinya.
"Belum ada standardisasi kualifikasi, tetapi secara bertahap akan kita lakukan beberapa standardisasi. Sementara ini yang kita lakukan dengan pelatihan," katanya.

Direktur PAUD Depdiknas Sudjarwo Singowidjojo menyampaikan, upaya lain yang ditempuh untuk meningkatkan APK PAUD adalah diversifikasi bentuk-bentuk PAUD, yakni kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis. Dia mencontohkan, melalui PAUD sejenis yaitu dengan membina di antaranya posyandu dan taman pendidikan Alquran.

"Kemudian dengan melakukan kemitraan dengan organisasi perempuan seperti Aisyiyah, Muslimat NU, dan PKK. Diharapkan, APK PAUD dapat mencapai 72,6 persen pada 2014," katanya.

Hamid mengatakan, progam PAUD didukung melalui APBN dan grant dari pemerintah Belanda. Beberapa tahun belakangan ini, kata dia, program ini juga dibantu oleh UNICEF khususnya di kawasan Indonesia bagian timur. "Oleh karena itu, pada tahun ini, bersamaan dengan program reguler, APBN, dan pihak donor, kita akan melakukan kegiatan publikasi dan sosialisasi berupa sejumlah lomba," katanya.

Label:

KOMPAS.com - Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.
Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.

Label: