13 Februari 2011

Artikel ini sebagai pertimbangan Paramount Serpong dalam mengganti rugi tanah warga Gading Serpong
Kondisi sekarang harga tanah di hargai Rp 750.000/M2

diambil dari sumber : http://trendproperty.wordpress.com/


SERPONG




Lonjakan harga juga terjadi di Serpong, Tangerang. Sejak munculnya kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 1989 silam, harga tanah dan properti di sini amat meroket. Manajer Senior Komunikasi Perusahaan BSD Idham Muchlis mengatakan, harga tanah dan properti BSD naik antara 15 persen hingga 20 persen per tahun.



Dalam catatan Idham, pada 2004 silam harga tanah di BSD sekitar Rp 750.000 per m² dan bangunan sekitar Rp 2 juta per m². Tahun ini, harga tanah sudah mencapai Rp 2,7 juta per m² dan harga bangunan sudah mencapai Rp 3,2 juta per m². Menurut Idham, lonjakan harga yang signifikan terjadi pada periode tahun 1995−1996 dan tahun 2004−2006. “Bisa dibilang waktu itu booming properti, sehingga harga naik tinggi,” ujarnya.



Selain BSD, harga tanah dan properti di Perumahan Alam Sutera juga meroket. Sejak berdiri 1994 silam, harga tanah di perumahan tetangga BSD ini naik 10 persen setiap tahun. “Meski naik, tapi harga tanah di Alam Sutera masih lebih murah dibanding daerah sekeliling,” ujar Sekretaris Perusahaan Alam Sutera Hendra Kurniawan.



Hendra mengungkapkan, saat ini harga tanah dipatok Rp 3,1 juta sampai Rp 3,3 juta per m². Bandingkan dengan dua tahun lalu, kala harga tanah masih sekitar Rp 1,3 juta per m², dan setahun kemudian meningkat menjadi Rp 2,25 juta per m². “Itu harga tanah rumah hunian. Kalau yang komersial kenaikannya lebih besar,” ujar Hendra.



Harga tanah komersial sekarang Rp 4,4 juta per m². Padahal, pada 2007 lalu, harganya masih Rp 1,7 juta per m². Itu berarti ada kenaikan sebesar Rp 2,7 juta per m² dalam selang waktu tiga tahun. Salah satu penyebab harga tanah di proyek PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) ini meroket lantaran adanya akses jalan tol sepanjang lima kilometer yang menghubungkan Jakarta dan Merak. Jalan tol ini juga memberikan akses ke Bandara Soekarno-Hatta.



Salah seorang investor yang sudah merasakan nikmatnya berinvestasi di Serpong adalah Yolanda Hanneke. Pada 2000, ia menukarkan duit sebanyak Rp 190 juta dengan sebuah rumah tipe 160/140 di Alam Sutera. Ketika itu, ia mengeluarkan kocek tambahan Rp 50 juta untuk melakukan beberapa perbaikan. “Beberapa bulan lalu saya jual rumah itu seharga Rp 600 juta,” ujar Yolanda.



Pengamat properti Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, kawasan Serpong pertama kali menjadi primadona sewaktu banjir besar melanda perumahan-perumahan di Jakarta pada beberapa tahun lalu. Selain bebas banjir, menurut Ali, tingginya permintaan lantaran lokasi sekitar Serpong sudah mulai jenuh.



Cuma, Ali menilai, kenaikan harga properti di Serpong mulai melamban. Dalam hitungannya, kenaikan harga sepanjang tahun ini hanya sebesar 12%. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, Ali mencatat kenaikan harga yang lebih besar, yakni dalam rentang 15% hingga 25%.

Ali beralasan, penurunan ini terjadi karena kawasan Serpong sudah mulai padat. Alhasil, dia melihat banyak orang melirik kawasan di sekitarnya, seperti Sawangan, Bintaro, Pondok Cabe. “Apalagi ada potensi JORR 2 lewat situ,” jelas Ali.

Sumber : http://www.rajaproperty.net/

Label: